Menelusuri Kisah Cinta dalam Pernikahan

Bismillahirrahmanirrahim..

Dengan namaMu ya Allah, tempat kami meminta, tempat kami meluahkan segala isi hati kami, tempat kami mengadu, tempat pergantungan secara total hidup kami, dalam keadaan senang, susah, baik, buruk dan sebagainya. Salawat dan salam buat junjungan besar, Khatimul Anbiya', Rasulallah SAW, seorang pendidik, pejuang yang bermati2an menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini.



Fitrah manusia adalah mencintai dan dicintai. Jangan sampai kita memungkiri hal ini. Dua buah hal yang saling berkaitan satu sama lain. Ketika kita mencintai seorang insan, pasti kita berharap untuk dicintainya. Media yang tepat untuk mewahdahi rasa cinta kita adalah PERNIKAHAN.

Setiap manusia pasti membayangkan sebuah pernikahan yang indah dan romantis tentunya. Saat kita masih hidup dalam kesendirian, pasti kita membayangkan punya pendamping hidup yang siap selalu mendengarkan keluh kesah kita, mendukung dan menolong kegiatan kita, dan pastinya ingin dicintai oleh pasangan kita.

Jika saya kutip dari sebuah buku, pernikahan itu tidak seindah pernikahan Cinderella. Ya, tentu saja, Kisah cinta Cinderella berakhir dengan pernikahan. Sedangkan kisah cinta Kita baru akan dimulai saat kita menikah. Satu hal lagi, Cinderella tidak tahu menahu persoalan-persoalan dalam pernikahan. Seperti urusan berbelanja, belajar berjiranan, dan lain-lain.

Indahnya pernikahan itu adalah ketika kita mengharungi bahtera kesulitan bersama pasangan kita. Itulah yang indah, bukan dikatakan indah jikalau kita hanya menikmati keindahan duniawinya sahaja.

Ketika kita belum bernikah, kita selalu terbayang indahnya pernikahan itu seperti jalan berdua dengan pasangan kita, menikmati tempat-tempat romantis, dan lain-lain. Padahal isi pernikahan bukan hanya itu, ada ujian-ujian yang Allah berikan untuk membuktikan cinta kita pada pasangan kita, dan pada Allah tentunya. Jika ingat ujian yang Allah berikan, maka saya teringat sebuah kisah cinta yang indah di zaman Rasul Allah SAW. Abu Talhah dan Ummu Sulaim. Saya akan membahasnya ringkas saja.

Ummu sulaim adalah seorang wanita yang cantik, ketika itu ada seorang Lelaki yang ingin menikahinya, Abu talhah namanya. Sayangnya, lelaki ini masih kafir, sehingga ummu sulaim menolaknya dengan halus. Bahkan, Abu talhah menanyakan “apakah yang kau inginkan adalah kuning dan putih (emas dan perak)?” Ummu sulaim tidak menginginkan keduanya. Hingga rasa cinta yang dipendam oleh Abu talhah ini sudah pada puncaknya, ia tetap bernekat untuk melamar ummu sulaim, apa jawapan dari Ummu Sulaim “Wahai abu talhah, Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku.”

Mengucap syahadat di zaman Rasulullah tidak semudah yang kita kira, harus siap dengan hinaan oleh kafir quraisy. Bukan seperti di Malaysia, dengan mudah mengucap kalimah syahadat untuk sebuah pernikahan. Itu baru sepenggal kisah cinta mereka. Masih berlanjut, tentu saja ada kisah menarik lainnya yang lebih indah dari ummu sulaim dan abu talhah. Inilah ujian terberat dalam kisah cinta mereka, ketika itu mereka yang berbahagia dikurniakan seorang putera, namun putera mereka ini mengalami sakit keras. Hingga abu talhah menemui Rasulullah untuk menenangkan hatinya. Abu talhah pergi bersama Rasulullah SAW, hingga menjelang isya’. Tanpa Abu talhah tahu, puteranya yang dicintai meninggal dunia. Ummu Sulaim dengan tenang mensolatinya, memandikan, dan menguburkannya.

Sepulangnya Abu Talhah ke rumah, Ummu Sulaim tampil cantik, bahkan lebih cantik dari sebelumnya di malam pertama. Dengan tutur kata yang lembut, Ummu sulaim melayani suaminya dengan baik, menyiapkan makan, dan bahkan memadu kasih yang suci hingga penghujung malam. Lalu, Ummu sulaim bertanya “wahai suamiku, bagaimana pendapatmu jika suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada kaum lain, lalu kaum tersebut memintanya kembali barang tersebut untuk dikembalikan, apakah mereka berhak menolaknya? “Tentu saja tidak” Jawab Abu Talhah.

“Ketahuilah suamiku, sesungguhnya Allah telah meminjamkan anakmu kepadamu, kemudian Dia mengambilnya kembali, karenanya berharaplah dan bersabarlah.”

Kata-kata tersebut bak belati yang menikam abu talhah. Dalam fikirnya bagaimana mungkin, anaknya meninggal lalu dia bersenang-senang dengan isterinya. Tetapi inilah kehebatan Ummu sulaim yang dipuji oleh Rasulullah SAW, hingga beliau mendoakan “Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian di akhir malam kalian tadi”


Mampukah kita menghadapi ujian setelah kita menikah, seperti halnya Ummu Sulaim dan Abu Talhah. Bukan saya ingin menjauhkan dari pernikahan, akan tetapi ada baiknya ketika kita mempersiapkan diri menuju proses kehidupan yang indah ini. Ujian dalam pernikahan memang berat, bahkan cinta pun kadang tak sanggup menahan beban ujian dalam pernikahan. Lantas apa yang sanggup memikul ujian pernikahan ini? Keimananlah yang sanggup memikulnya.

"Cinderella menyelesaikan kisah cintanya digerbang pintu pernikahan, sementara kita memulai kisah cinta setelah melewati gerbang pernikahan"

Wallahu’alam bswb...

P/S : Dalam kesempatan yang ada ini, saya ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah perkahwinan kepada sahabat2 saya yang akan melangsungkan perkahwinannya pada bulan february ini. Semoga berbahagia dan berkekalan hingga ke akhir hayat. InsyaAllah.. Ameen..^_^
Category: , , ,
Reactions: 

0 tautan hati: