Kisah kupu-kupu^_^

Dengan menyebut nama-Mu Allah, Tuhan sekalian makhluk, Tuhan yang sentiasa memerhatikan makhluk2Nya ketika makhlukNya sedang berkerja, belajar dan sedang tidur. Salawat dan juga salam buat junjungan mulia, Muhammad Bin Abdullah, seorang pahlawan yang paling disanjungi serta sahabat2 yang saya kasihi sekalian.


Suatu ketika dahulu, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia kelihatan termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana. “Sedang apa kau disini anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang Si Tua. “Apa yang kau risaukan..?” Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah wahai Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuhi untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?”

Si Tua itu duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah pemuda di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “di depan sana , ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawapan dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku.

Mereka berpandangan. “Ya…tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu” Si Tua itu mengulang kalimatnya lagi. Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Si Tua itu melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang dilakukan pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu terlepas. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mahu kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterajangnya sana-sini. Dirosaknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat.

Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. ” Tampak Si Tua yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri Si Tua itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh Si Tua itu. “Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerajang? Melompat-lompat tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rosakkan?” Si Tua menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terajang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.” “Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.” Si Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan-lahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. *** Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu.

Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerajang sana-sini, merosak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak boleh di dapati dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat digenggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada didalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Cubalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani kehidupan harian kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam stress. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita. Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Pakar motivasi pernah menyatakan "Anda adalah apa yang anda fikirkan mengenai diri anda". manakala hadits Rasulallah SAW memberi petua lagi bernas, Sabdanya " Sungguh hebat keadaan orang mukmin, mereka sentiasa berkeadaan baik. tidak terjadi yang demikian itu kecuali pada diri orang Mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, hal ini adalah kebaikan. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, itu juga adalah kebaikan". (Hadis Riwayat Imam Muslim)

2 tautan hati:

hussein azeemi said...

menarik!! terkesima ana...

HafizuddinPirus said...

terima kasih khi..
InsyaAllah sama2 kita hayati..:)